PEMASANGAN PERANGKAT JARINGAN NIRKABEL

0
PEMASANGAN PERANGKAT JARINGAN NIRKABEL
A.Antena Dan Tower
1.Antena
Antena adalah alat untuk mengirim dan menerima gelombang elektromagnetik,bergantung kepada pemakaian dan penggunaan frekuensinya, antena bisa berwujudberbagai bentuk, mulai dari seutas kabel, dipole, ataupun yagi, dsb. Antena adalah alatpasif tanpa catu daya(power), yang tidak bisa meningkatkan kekuatan sinyal radio, diaseperti reflektor pada lampu senter, membantu mengkonsentrasi dan memfokuskansinyal.Kekuatan dalam mengkonsentrasi dan memfokuskan sinyal radio, satuan ukurnyaadalah dB. Jadi ketika dB bertambah, maka jangkauan jarak yang bisa ditempuhpunbertambah. Jenis antena yang akan dipasang harus sesuai dengan sistem yang akankita bangun, juga disesuaikan dengan kebutuhan penyebaran sinyalnya. Secara umumada dua jenis antena yaitu :1. Directional2. Omni Directional
1.2 Fungsi
Fungsi antena adalah untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyalelektromagnetik, lalu meradiasikannya (Pelepasan energy elektromagnetik ke udara / ruang bebas). Dan sebaliknya, antena juga dapat berfungsi untuk menerima sinyalelektromagnetik (Penerima energy elektromagnetik dari ruang bebas ) danmengubahnya menjadi sinyal listrik. Pada radar atau sistem komunikasi satelit, seringdijumpai sebuah antena yang melakukan kedua fungsi (peradiasi dan penerima)sekaligus. Namun, pada sebuah teleskop radio, antena hanya menjalankan fungsipenerima saja.
1.3 Parameter
 –
parameter kinerja antena :
1. Pola radiasi (Radiation Pattern) yaitu Penggambaran sudut radiasi (polar plot).Bentuk yang lain seperti pola omnidirectional pattern yaitu pola radiasi yang serba samadalam satu bidang radiasi saja. Pola Directive yang membentuk pola berkas yangsempit dengan radiasi yang sangat tinggi. Menurut sumber lainnya Pola radiasi antenaadalah plot 3-dimensi distribusi sinyal yang dipancarkan oleh sebuah antena, atau plot3-dimensi tingkat penerimaan sinyal yang diterima oleh sebuah antena. Polaradiasiantena dibentuk oleh dua buah pola radiasi berdasar bidang irisan, yaitu polaradiasi pada bidang irisan arah elevasi (pola elevasi) dan pola radiasi pada bidangirisan arah azimuth (pola azimuth).





2.Tower
Pengertian dan penggunaan Tower Crane
Crane digunakan untuk mengangkat muatan secara vertikal, menahannya apabila diperlukan, dan menurunkan muatan ke tempat lain yang ditentukan dengan mekanisme pendongkrak (luffing), pemutar (slewing), dan pejalan (travelling).Number of beam (nb) adalah 6.
Berdasarkan konstruksi crane dikelompokkan menjadi:
Ø Mobile cranes
Ø Crawler crane (crane roda rantai)
Ø Wheel crane (crane roda ban)
Ø Truck mounted crane (carne dipasang pada truck)
Ø Modified cranes (crane modifikasi)
Ø Crane tetap
Ø Tower crane

PEMASANGAN TOWER CRANE (TC)
1.Pembuatan Fondasi
Fondasi Tower Crane dibuat dari semen yang dicor.Pada bagian dasarnya.Fondasi berukuran panjang 4 m, lebar 4 m dan dalam 2 m.Pada bagian dasar fondasi ditanamkan Fine Anggle yang fungsinya untuk memperkokoh fondasi,Fine Angel merupakan besi cor berkualitas tinggi.Setelah fondasi selesai dibuat perlu waktu 1 minggu untuk menunggunya menjadi keras dan kering.

2.Tower Crane bentuk “ I “
Setelah 1 minggu dipasang basic master yang berukuran 3×3×2 m3 pada bagian atas fondasi dengan menggunakan bantuan mobil crane (Todano).Setelah basic master berdiri,basic master dan fondasi dihubungkan dengan pen.Untuk seterusnya bagian antara section dengan section dihubungkan dengan pen.Dengan bantuan mobil crane didirikan section 1 yang berukuran 3×3×5 m3.Kedua bagian ini (section 1 dengan basic master) adalah bagian yang tetap (fix) dan tak dapat digerakkan.Setelah section 1dan basic master kokoh berdiri dipasang Teleskop yang gunanya untuk menaikkan dan menurunkan tower crane karena teleskop dilengkapi dengan sistem hidrolik.Tinggi telescope 4 m dan melekat pada bagian luar section 1 .Setelah teleskop terpasang ,dipasanglah slewing yang fungsinya untuk mengendalikan tower crane sehingga dapat berotasi 360o,3x putaran searah jarum jam dan 3x putaran berlawanan jarum jam.Slewing dilengkapi dengan dinamo dan bola-bola yang mengelilingi bagian dasar slewing.
Setelah slewing selesai terpasang,dipasang Top Heat yang fungsinnya untuk menghubungkan tali dengan beban pada saat pengangkatan beban. Perlu diketahui Teleskop,slewing dan Top Heat dipasang dengan bantuan mobil crane.

Tower crane
Crane ini disurvei pada tanggal 13 mei 2009 bertempatan di jalan Ampera ,glugur darat 1 Medan. Tower crane awalnya digunakan untuk pembangunan kembali gedung-gedung yang sangat tinggi, misal gedung bertingkat, apartemen, pusat perbelanjaan.Penggunaan tower crane memerlukan perencanaan yang seksama karena crane dipasang tetap (fixed installation) di site dengan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang lama. Dari posisi tetapnya, tower crane harus mampu menjangkau semua area yang diperlukan untuk mengangkat beban yang diinginkan

3.Tower Crane bentuk “ T ”
Setelah Tower Crane bentuk I berdiri,masih dengan bantuan mobil crane dipasanglah bagian counter jib,panjang conter jib 14,5 m.Conter jib adalah lengan belakang crane yang dilengkapi dengan motor dan hoist (beton keseimbangan).Hoist terpasang pada counter jib dengan bantuan mobil crane.Mula-mula hoist terpasang 1 buah dan setelah tower crane berdiri kokoh,dipasang 3 hoist tambahan lagi.Perlu diketahui,berat 1 buah hoist adalah 4,5 Ton.Setelah counter jib terpasang,dipasanglah jib yang panjangnya 60 m,jib terpasang dengan bantuan mobil crane.Jib adalah lengan bagian depan crane yang dilengkapi dengan trolley,dinamo,cabin dan hooke.Troley adalah bagian dari jib yang dapat beroperasi maju dan mundur dan sebagai alat untuk mengaitkan Hooke (kait) yang tersambung dengan beban.Setelah jib lengkap terpasang dengan bantuan mobil crane dipasanglah cabin.Cabin adalah ruang kemudi tempat operator mengoperasikan crane ,cabin dilengkapi dengan penghangat udara (heater).Hal ini dikarenakan pada ketinggian suhu udara sangatlah dingin sehingga dipasang heater untuk kenyamanan operator.

4.Menambah ketinggian Tower Crane
Crane yang telah terpasang dalam bentuk T,telah dapat dioperasikan.Akan tetapi gedung yang dibangun bertambah ketinggiannya sehingga tinggi crane harus ditambah sehingga crane selalu berada pada posisi lebih tinggi dari pada banguanan yang dibangun.Caranya ialah,teleskop ditinggikan (erection) lebih kurang 5,5 m.Hooke pada jib mengangkat section yang akan disambung dengan section yang telah ada dibawahnya.Sehingga dapat disimpulkan dalam meninggikan crane,crane membangun dirinya sendiri sampai ketinggian yang dikehendaki.Setelah tersusun 4 section diatas section 1 dipasanglah sabuk,sabuk adalah besi penghubung tower crane dengan bangunan yang fungsinya untuk menjaga kestabilan tower crane.Panjang sabuk 7 m dan dipasang 3 buah tiap sectionnya,sabuk dipasang per 20 m antara satu section dengan section yang lainnya.

PEMBONGKARAN TOWER CRANE
Tahapan pembongkaran tower Crane adalah kebalikan dari pemasangan tower Crane.Mula-mula hooke melepaskan bagian section terakhir,sehingga timbul ruang kosong antara slewing dengan section ke 2 terakhir dan teleskop diturunkan berlahan-lahan hingga menyatu dengan section berikutnya.Kemudian hooke melepaskan section berikutnyasehingga timbul ruang kosong antara slewing dengan section ke 3 terakhir.Proses ini dilakukan terus menerus hingga slewing menyatu dengan section 1.Dengan bantuan mobil crane tower crane dilepaskan satu-persatu.Dimulai dari hoist,hoist dilepaskan 3 buah terlebih dahulu,setelah itu jib beserta perlengkapannya dilepaskan.Berikutnya counter jib dilepaskan beserta perlengkapanya.Tower crane menjadi bentuk I kembali.Top Head dan slewing dilepaskan dengan mobil crane ,dilanjutkan dengan teleskop,section 1hingga basic master.Setelah selesai pembongkaran hanya menyisakan fondasi tower crane,fondasi tower crane dibongkar dengan menggunakan alat berat untuk mengambil fine angel.Fine angel dapat digunakan kembali untuk mendirikan tower crane berikutnya.

SPESIFIKASI
Main technical parameters (Capacity 10 T)
Nominal lifting moment KN.m 1600
Max lifting load t 10
Jib tip payload t 2.1
Working amplitude m 2~60
Lifting height independent m 59.5
attached m 201
Lifting speed m/min 0-100
Rotation speed r/min 0-0.6
Amplitude changing speed m/min 0-60
Working temperature °C -20°~+40°
Main limb materials of the tower body
200×200×20
Lifting Characteristic Load Form
2 falls
Range m 2-31 32 34 36 38 40
Lifting capacity kg 5000 4900 4540 4230 3940 3690
Range m 42 44 46 48 50 52
Lifting capacity kg 3460 3250 3060 2890 2730 2590
Range m 54 56 58 60
Lifting capacity kg 2450 2330 2210 2100
4 falls
Range m 2-17.6 18 20 22 24 26
Lifting capacity kg 10000 9760 8630 7710 6950 6320
Range m 28 30 31.5 32 34 36
Lifting capacity kg 5770 5310 5000 4900 4540 4230
Range m 38 40 42 44 46 48
Lifting capacity kg 3940 3690 3460 3250 3060 2890
Range m 50 52 54 56 58 60
Lifting capacity kg 2730 2590 2450 2330 2210 2100

B.Konektor Dan sistem pengkabelan antena
1.Konektor
Konektor (Connector) dalam Teknik Elektronika adalah suatu komponen Elektro-Mekanikal yang berfungsi untuk menghubungkan satu rangkaian elektronika ke rangkaian elektronika lainnya ataupun untuk menghubungkan suatu perangkat dengan perangkat lainnya. Pada umumnya, Konektor terdiri Konektor Plug (male) dan Konektor Socket (female). Saat ini, terdapat banyak sekali jenis-jenis konektor dengan nama yang berbeda-beda dan untuk keperluan yang berbeda-beda juga. Selain konektor standar yang sering kita temui seperti konektor USB, Konektor BNC dan Konektor Koaksial, terdapat juga konektor yang dirancang khusus untuk dipasangkan di PCB untuk menghubungkan satu rangkaian PCB dengan rangkaian PCB lainnya. Konektor ini sering disebut dengan Konektor PCB (PCB Connector). Terdapat banyak Bentuk dan jumlah Pin (kaki) Konektor PCB tergantung pada keperluan rangkaian PCB yang bersangkutan.

Jenis-jenis Konektor Standar
Konektor-konektor standar yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita maupun dalam Industri diantaranya adalah Konektor USB, Konektor BNC, Konektor Koaksial, Konektor DC Power Supply, Konektor Banana, Konektor D, Konektor RJ45 dan masih banyak lagi. Berikut ini adalah penjelasan singkat dan bentuk (gambar) beberapa Jenis Konektor Standar yang paling sering ditemui.

Banana Connector (Konektor Banana) dan Socket
Banana Connector ini sering disebut juga dengan Konektor 4mm, hal ini dikarenakan diameter Pin Banana Conector ini berukuran 4mm. Pin pada Banana Connector ini terdapat 1 atau 2 per (spring) yang menonjol keluar, sehingga bentuknya menyerupai Pisang (Banana). Salah satu kelebihan Banana Connector (Konektor Banana) adalah dapat melewatkan arus listrik yang tinggi hingga 10A. Oleh karena itu, Konektor Banana ini banyak digunakan sebagai konektor yang menghubungkan Speaker ke Amplifier dan juga dalam Peralatan Test Equipment (Alat-alat ukur / Uji) seperti Multimeter dan Osiloskop. Konektor Banana ini ditemukan oleh Richard Hirschmann pada tahun 1924.
Dibawah ini adalah gambar bentuk Konektor Banana (Banana Connector) beserta socketnya :
Banana Connector

USB Connector (Konektor USB) dan Socket
USB adalah singkatan dari Universal Serial Bus dan merupakan konektor yang paling populer saat ini dalam hal yang berhubungan dengan Catu Daya (Power Supply), Komunikasi dan Koneksi antara Komputer dengan Peralatan Elektronika seperti Handphone, Harddisk, Digital Kamera dan lain sebagainya. Seiring dengan perkembangannya peralatan Portable, Konektor USB pun memiliki berbagai jenis ukuran yakni Ukuran Standard Type, Mini dan Micro.

Konektor USB ini dikembangkan oleh 7 Perusahaan besar, diantaranya adalah Compaq, DEC, IBM, Intel, Microsoft, NEC dan Nortel pada tahun 1994.
Berikut ini adalah gambar bentuk Konektor USB (USB Connector) beserta Socketnya :
USB Connector

Coaxial Connector (Konektor Koaksial) dan Socket
Coaxial Connector (Konektor Koaksial) digunakan untuk menghubungkan kabel Koaksial yang membawa Frekuensi Tinggi seperti pada kabel Antena TV. Coaxial Connector ini memiliki kelebihan dalam mengurangi Noise pada Frekuensi Tinggi. Dibawah ini adalah gambar bentuk Konektor Koaksial (Coaxial Connector) beserta Socketnya :
 Coaxial Connector

BNC Connector (Konektor BNC) dan Socket
BNC Connector (Konektor BNC) dirancang khusus untuk kabel koaksial (coaxial) yang membawa signal Frekuensi Tinggi dimana kejernihan signal yang bebas dari Distorsi dan Noise merupakan hal yang sangat penting. Konektor BNC biasanya digunakan pada Test Equipment Frekuensi seperti Osiloskop, Audio Analyzer, Signal Generator. Konektor BNC ini dirancang oleh Paul Neill, Carl Concelman, & Octavio M. Salati dan dipatenkan pada tahun 1951. Kepanjangan dari BNC adalah Bayonet Neill–Concelman. Dibawah adalah gambar bentuk Konektor BNC (BNC Connector) beserta socketnya :
BNC Connector

RCA Connector (Konektor RCA) dan Socket
RCA Connector sering disebut juga dengan Phono Connector ataupun A/V Jack. RCA Connector yang memiliki kepanjangan “Radio Corporation of America” ini ditemukan pada awal tahun 1940-an dan pada umumnya berfungsi sebagai Konektor untuk kabel pembawa signal Audio dan Video. Untuk membedakan Signal yang akan dibawanya, biasanya Konektor RCA diberikan warna yang berbeda seperti Kuning untuk Signal Video, Merah dan Putih untuk signal Stereo (Audio Kiri dan Audio Kanan).
Dibawah ini adalah gambar bentuk Konektor RCA (RCA Connector) beserta bentuk socketnya :
RCA Connector

D Connector (Konektor D) dan Socket
D Connector atau D-Subminiature (D-Sub) merupakan Konektor yang paling sering ditemukan dalam Komputer. Pemakaian “D” sebagai namanya karena bentuk konektor seperti huruf “D” yang sebenarnya adalah berfungsi  untuk menghindari terjadinya kesalahan pemasangan.  Konektor D umumnya memiliki 2 baris atau 3 baris Pin. Jumlah Pin pada Konektor D juga beragam mulai dari 9 Pin hingga 100 Pin. Konektor D yang paling sering ditemukan pada Komputer adalah Konektor VGA (DE-15; 15 Pin) dan Konektor Komunikasi Serial RS-232 (DE-9; 9 Pin).
Berikut ini adalah gambar bentuk Konektor D (D Connector) berserta socketnya :
D Connector


Phone Connector (Konektor Phone) dan Socket
Phone Connector atau sering juga disebut dengan Phone jack adalah Konektor yang pada umumnya digunakan untuk konektor kabel yang menghantarkan signal Audio. Terdapat 3 ukuran Phone Connector yaitu ¼” (6.3mm), 1/8” (3.5mm) dan 3/32” (2.5mm). Phone Jack (Phone Connector) juga tersedia dalam bentuk Mono dan Stereo dan bahkan sekarang sudah dapat ditemukan Phone Jack kombinasi yang terdiri dari Stereo, Mikropon dan Tombol pengendali.
Aplikasi Phone Connector umumnya untuk Konektor Mikropon, Konektor Headphone, Konektor Earphone dan lain sebagainya. Dibawah ini adalah contoh gambar bentuk Konektor Phone (Phone Connector) beserta socketnya :
Phone Connector
DC Connector (Konektor arus DC) dan Socket
Seperti namanya, DC Connector adalah Konektor yang diperuntukan kabel yang menghantarkan arus listrik DC. DC Connector pada umumnya berbentuk Silinder dan memiliki polaritas Positif dan Negatif. Konekor Arus DC ini banyak kita temukan di Adaptor seperti Adaptor Laptop, Adaptor Telepon dan lain sebagainya. Berikut ini adalah gambar bentuk Konektor DC (DC Connector) beserta gambar bentuk socketnya :
DC Connector

Modular Connector
Modular Connector umumnya digunakan pada peralatan Telekomunikasi dan Komputer seperti kabel Telepon dan juga Kabel LAN (Local Area Network). Modular Connector juga sering disebut dengan “RJ Connector” ataupun Modular Phone Jack”.  Modular Connector yang sering digunakan untuk Network (Jaringan) computer adalah Modular Connector Jenis RJ45 yang memiliki 8 Pin (8P8C) sedangkan untuk Telepon rumah sering digunakan Modular Connector yang berjenis RJ11 (6P2C) atau RJ14 (6P4C).
Catatan : 8P8C = 8 Pin 8 Contact.
Berikut ini adalah gambar bentuk Konektor Modular (Modular Connector) beserta socketnya :
Modular Connector
PCB Connector (Konektor PCB)
Selain konektor-konektor standar yang disebut diatas, terdapat juga konektor yang dipasang dalam PCB yang menghubungkan satu rangkaian PCB dengan rangkaian PCB lainnya. Bentuk-bentuk konektor PCB tersebut berbeda-beda tergantung perancangan PCB dan keperluannya. Konektor PCB tersebut rata-rata terpasang didalam peralatan Elektronika dan tidak dapat dilihat oleh Konsumen pada umumnya. Berikut ini gambar beberapa jenis konektor yang sering dipasang di PCB. Dibawah ini adalah gambar bentuk berbagai jenis Konektor PCB (PCB Connector) :
PCB Connector


2.sistem pengkabelan antena
Sistem pengarahan antena dilakukan melalui pengaturan sudut azimuth-elevasi berkas pusat antena lurus terhadap target (satelit). Sementara itu, pada sistem mobile antena terjadinya pergeseran pengarahan akibat gerakan platform dapat menurunkan gain parameter antena saat pengiriman (uplink) maupun penerimaan (downlink). Mengeliminasi depointing losses akibat ketidak tepatan orientasi antena pada sistem bergerak membutuhkan pengendalian orientasi pengarah secara berkelanjutan. Kontrol PID dengan lead compensator digunakan untuk melakukan mekanisme pengarahan mobile antena yang mempunyai manuver gerak platform dua derajat kebebasan, rolling dan pitching.:

(sumber : http://digilib.polsri.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=ptpolsri-gdllelaanggra5637&PHPSESSID=df847bdaeac8ba5d1e58425d9129d504)
C.Pointing Antena
Sistem pengarahan antena dilakukan melalui pengaturan sudut azimuth-elevasi berkas pusat antena lurus terhadap target (satelit). Sementara itu, pada sistem mobile antena terjadinya pergeseran pengarahan akibat gerakan platform dapat menurunkan gain parameter antena saat pengiriman (uplink) maupun penerimaan (downlink). Mengeliminasi depointing losses akibat ketidak tepatan orientasi antena pada sistem bergerak membutuhkan pengendalian orientasi pengarah secara berkelanjutan. Kontrol PID dengan lead compensator digunakan untuk melakukan mekanisme pengarahan mobile antena yang mempunyai manuver gerak platform dua derajat kebebasan, rolling dan pitching.
Melalui kontrol PID lead compensator, sistematika pengarah azimuth-elevasi dikendalikan untuk mengeliminasi pointing error. Reposisi pengarah azimuth elevasi bekerja pada frekuensi gangguan pitching-roiling berkisar 0 -0.5 Hz. Hasil percobaan menunjukkan, pengarah antena yang dirancang menggunakan kontrol PID Lead Compensator mempunyai mean pointing error 1.1Q untuk sistem azimuth, dan 2.8 Ãâ€Å¡ÃƒÃ‚° untuk pengarah elevasi pada manuver gerak platform rolling 0.175 Hz, dan pitching 0.3 Hz. Performasi yang dicapai PID lead compensator mampu meningkatkan akurasi pengarahan terhadap kontrol PID sebesar 200% pada sistem azimuth, dan 180% pada sistem elevasi pada standar akurasi tracking 0.1 pointing error.


(sumber:http://digilib.polsri.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=ptpolsri-gdllelaanggra5637&PHPSESSID=df847bdaeac8ba5d1e58425d9129d504)
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Please Select Embedded Mode To show the Comment System.*